:: Selamat datang di www.zackycute.blogspot.com ::
gravatar

Joget Bumbung, Erotisme ala Pulau Dewata



Suatu hari di sebuah desa di Pulau Bali. Para penari Sanggar Batu Kembar Arthajaya melaksanakan ritual meminta restu kepada Sang Pencipta. Mereka menggelar persiapan sebelum mengisi acara yang diadakan di desa tersebut. Saat pertunjukan dimulai, para penari pun bergoyang mengikuti alunan musik. Mereka meliuk-liukkan tubuh menghibur penonton. Aura pertunjukan semakin panas begitu para penari mengajak warga ikut berjoget. Saat itulah erotisme tarian ini bermula.

Joget bumbung, demikian nama tarian itu. Awalnya, joget bumbung adalah tarian pergaulan muda-mudi yang biasa ditampilkan dalam acara pesta. Namun, karena tak mampu bersaing dengan jenis tarian lainnya, kesenian ini berkembang menjadi sebuah joget erotis untuk menarik perhatian masyarakat. Sayangnya, kondisi ini menimbulkan keprihatinan di kalangan seniman tradisional Bali. Mereka menilai joget bumbung telah melanggar pakem kesenian setempat.

Menurut pengamat seni tari Bali I Wayan Suweca, selain melanggar pakem, joget bumbung juga melanggar norma-norma masyarakat Bali yang religius. Apalagi, erotisme tarian tersebut juga disebarluaskan melalui video compact disk yang dijual bebas. "Tari Bali selalu dimulai dengan acara ritual dan terkait dengan kekuatan dari atas. Jadi sikap-sikap yang mengarah pada pornografi jauh dari itu," ujar Wayan Sucewa.

Sanggar Batu Kembar Arthajaya adalah satu dari puluhan kelompok joget bumbung yang kini tersebar hampir di seluruh desa di Pulau Dewata. Sanggar ini terletak di Dusun Banjartengah, Kabupaten Badung, Bali. Semula, Sanggar Batu Kembar Arthajaya adalah sanggar tari klasik dan tradisional Bali. Belakangan, karena pertimbangan ekonomis, sanggar ini beralih ke joget bumbung layaknya sanggar sejenis lainnya.

Pimpinan Sanggar Batu Kembar Artha Jaya I Wayan Mustika menuturkan, serba sulit mengembangkan tarian-tarian klasik. Sebab, saat ini tarian klasik tidak laku di masyarakat. Mereka lebih banyak menyukai tarian joget bumbung. Meski begitu, dia tak menepis bila joget bumbung disebut tarian porno dan menyerahkan penilaian itu kepada masyarakat. Apalagi, yang disebut porno masih belum memiliki batasan jelas.

Sekarang ini, Sanggar Batu Kembar Arthajaya beranggotakan delapan penari. Mereka rata-rata berusia muda dan baru lulus sekolah lanjutan tingkat atas. Untuk sekali pementasan, para penari mendapat bayaran antara Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu. Jumlah itu akan bertambah jika mereka memperoleh tip dari warga yang ikut menari, biasa disebut pengibing. Dengan begitu, para penari akan semakin bersemangat menggoyang pengibing, sehingga porno tidaknya sangat tergantung pada penilaian masing-masing.

liputan 6.com